Pemimpin Ideal

Calon pemimpin Ideal…???? Antara Harapan dan Realita!!!! Tentu saja karena telah terjadi “DEKADENSI MORAL” di Negara kita. Yang harus kita ketahui adalah “EKSES NEGATIF” dari pemekaran wilayah, adalah adanya kesempatan bagi para pejabat untuk berkuasa.. Jika di izinkan secara pribadi inilah syarat pemimpin yang Ideal bagi saya untuk Tana Toraja dan Toraja Utara ke depan:
• 1. TAKUT AKAN TUHAN.
• 2. Berhati seorang hamba (hamba kebenaran)
• 3. Seorang yang melayani, bukan untuk dilayani
• 4. Rela berkorban
• 5. Seorang yang tak bercacat (Moral)
• 6. Suami dari satu isteri
• 7. Dapat menahan diri
• 8. Bijaksana
• 9. Sopan
• 10. Cakap mengejar peluang
• 11. Bukan pemarah melainkan peramah
• 12. Pendamai
• 13. Bukan hamba uang
• 14. Seorang kepala keluarga yang baik
• 15. Disegani dan dihormati oleh anak-anaknya
• 16. Memiliki nama baik
• 17. Seorang yang terhormat
• 18. Tidak bercabang lidah
• 19. Memiliki hati nurani yang suci
• 20. Anak-anaknya hidup beriman
• 21. Tidak angkuh
• 22. Tidak serakah
• 23. Berpegang pada perkataan yang benar
Siapakah para kandidat yang memilikinya…???Terlepas dari itu semua, para kandidat hanya manusia biasa yang memiliki banyak kekurangan. Tetapi selama mereka mau dan ingin belajar serta membuka hati dan pikiran mereka tentang kondisi umum masyarakat di Tana Toraja dan Toraja Utara, maka suatu saat dia-lah yang akan terpilih oleh masyarkat Toraja secara luas.
“Misa Kada Di Potou, Pantan Kada Di Pomate”…..

Salam
Anto Paranoan, ST.

Pemimpin Ideal Toraja Utara 2010-2015

Toraja Utara Membutuhkan Pemimpin yang Bagaimana?

Siapa saja pasti mau menjadi pemimpin, mungkin kalau ditanyakan kepada seorang pengemis di jalanan, ia pasti juga mau menjadi pemimpin para pengemis. Semua orang sejak ia dilahirkan pasti memiliki cita-cita menjadi pemimpin. Akan tetapi membayangkan pemimpin itu tidak semudah melakukannya. Ada ribuan contoh “pemimpin” dalam sejarah dunia, tetapi hanya beberapa saja di antaranya yang sungguh-sungguh dapat dianggap layak memberi pimpinan. Kebanyakan yang disebut pemberi-pemberi kepemimpinan yang kurang berhasil adalah mereka yang tidak memiliki modal dasar (profil), biasanya pemimpin dari jenis ini adalah mereka yang terpilih dan terangkat dalam keadaan darurat (turbulensi). Ada pula yang sudah menemui kegagalan karena tidak memiliki daya upaya mandiri, dengan kata lain mereka yang berjenis ini sudah menjadi pemimpin bayangan (tokoh boneka), tidak berinisiatif, ia dikendalikan oleh sesuatu kekuatan di luar dirinya. Yang paling banyak dialami oleh pemimpin-pemimpin yang gagal adalah sering kali mereka yang oleh egonya tidak pernah mau terbuka, mereka yang berjenis ini terlalu percaya diri bahkan ia sendiri sudah dipimpin oleh mimpi-mimpinya sendiri.
Oleh karena itu marilah kita sama-sama belajar dari sejarah. Pemimpin itu sebenarnya tidak dilahirkan, kepemimpinan dapat dipelajari, ditemukan kekurangan-kekurangannya, sehingga dapat diterapkan untuk melatih calon-calon pemimpin yang akan datang. Kepemimpinan adalah suatu proses menjadi dari beberapa titik momentum dalam kehidupan. Dengan begitu, pemimpin tidak dilahirkan tetapi tampil melalui proses belajar yang tidak sekejap. Oleh karenanya, ketika orang-orang gampang mengucapkan bisa menjadi pemimpin dapat sadar bahwa dalam pelaksanaannya menjadi seorang pemimpin itu tidaklah mudah.
Ada berbagai macam teori kepemimpinan. Tetapi dalam ruang dan waktu yang sesempit ini tidaklah mungkin kita bisa membabarkannya satu demi satu. Cukuplah jika semuanya disajikan dalam bentuk modul berikut. Modul ini menampilkan tiga standar kebutuhan dasar yang diharapkan hadir pada setiap figur calon pemimpin. Harus diakui memang tidak ada manusia yang sempurna, tetapi paling tidak siapa yang menghendaki menjadi pemimpin sebaiknya memperhatikannya. Syukur kalau dia mau menyadari bahwa ia tidak memilikinya lalu berpikir ulang untuk mundur saja dari pada menjadi pemimpin dengan performansi keterpaksaan.
Standar pertama adalah meliputi profil awal seseorang sebelum ia memimpin yaitu Modal Kompetensi. Standar kedua adalah meliputi dimensi-dimensi kognitif-psikomotoris yang menunjang kinerja kepemimpinan yaitu Daya Upaya. Sedangkan standar ketiga adalah bersangkut paut dengan segi-segi afeksi seseorang yang akan banyak menolong pemimpin untuk tetap bisa realistis memimpin, yaitu Akuntabilitas.
Berikut ini paparan singkatnya:
1. Modal Kepemimpinan yang 6 “Ber...” a.) Beriman; b.) Bermoral; c.) Berbudaya;
d.) Bersumber-daya; e.) Berpengalaman; dan f.) Berpengamalan
2. Upaya Kepemimpinan yang memiliki 4 “T...” a.) Tujuan; b.) Tekad; c.) Tenaga; dan d.) Tim Kerja
3. Tanggung Jawab Kepemimpinan yang siap menerima 3 “S...” a.) Saran-saran;
b.) Sanggahan-sanggahan; dan c.) Sindirian-sindiran
Benang merah Modal Kompetensi yang menjadi bekal untuk memilih seorang pemimpin yang baik adalah sebagai berikut: Seorang calon pemimpin adalah pertama-tama orang yang diarahkan oleh Yang Mahakuasa (Tuhan, Pencipta Langit dan Bumi), jadi jika ia tidak mengaku adanya wibawa ilahi dibalik keterpanggilannya maka jangan pilih dia. Kedua, seorang calon pemimpin adalah orang yang memiliki hati nurani yang tidak bertentangan dengan hukum alam atau melawan hukum kemanusiaan. Moral (Yunani: Moira, “kecantikan, keindahan”) manusia itu adalah percikan-percikan kebaikan abadi (Kej. 1:31) yang hadir dalam nurani setiap individu, jadi tidak bisa disangkali. Jangan memilih orang yang diketahui pernah membunuh atau berzinah atau mencuri. Jiwa yang sudah dikotori akan lama sekali dapat dimurnikan, bahkan hingga akhir hidup belum bisa dijamin bersih lagi. Ini patologi sosial, seorang yang pernah melanggar cenderung akan melanggar lagi.
Ketiga, seorang calon pemimpin adalah orang yang berbekal budi pekerti, memiliki adab sopan santun dan kehalusan bahasa. Setiap suku bangsa di dunia memiliki kriteria menyebut seseorang berbudaya atau tidak. Orang yang tidak tahu terima kasih dan tidak pernah mengucapkan kata-kata tolong dan maaf memang sebaiknya jangan diangkat jadi pemimpin. Itu artinya sang calon sudah tidak berbudaya. Keempat, seorang calon pemimpin itu seharusnya sudah memiliki sumber-sumber daya sendiri (bukan hasil korupsi dan penggelapan uang rakyat) sebelum dipercayakan mengelola sumber-sumber daya milik publik. Artinya ialah, sebelum memimpin orang itu harus melaporkan kekayaan materinya di hadapan akuntan publik, diperiksa asal-usul kekayaan itu dari mana dan diumumkan dalam media massa. Maka, jangan memilih pemimpin berkarakter “Yudas” (koruptor) dan “Ananias” (pemalsu jumlah kekayaan) menjadi pemimpin kita. Pilihlah orang yang sudah terbiasa memegang dan menjaga perbendaharaan publik. Dua kemungkinan bisa terjadi, bahwa calon yang miskin karena tidak terbiasa melimpah pasti cenderung korupsi demikian pula calon yang kaya karena tidak terbiasa hidup prihatin maka sudah tergoda pula korup (Ungkapan Lord Acton kiranya tepat meramalkan bahwa power tends to corrupt, absolute power corrupts absolutely). Di sinilah peran keimanan yang kuat dan kestsabilan rohani seseorang bakal calon ikut memainkan peran penting.
Kelima, seorang calon pemimpin adalah orang yang tahun-tahun hidupnya aktif dengan kegiatan berorganisasi. Jangan memilih pemimpin yang tidak pernah sekalipun berpengalaman hidup dalam kelompok. Riwayat organisasi dan keaktifan sosial penting di sini. Kebiasaan hidup berkelompok itu menandakan seseorang itu animale (“binatang”) sosial dan bukannya animale soliter. Jika sudah soliter, maka sama saja ia dengan Tarzan si Raja Rimba, yang mengklaim diri pemimpin tetapi tinggalnya di hutan belukar yang sepi. Jika belum memimpin saja orang-orang seperti itu sangat sulit ditemui bagaimana nanti kalau sudah memimpin? Akhirnya kompetensi yang terakhir adalah seorang calon pemimpin adalah orang yang membagi dengan sukarela segala yang dimilikinya bagi semua orang yang membutuhkan, baik semangat, pertolongan, harta benda atau pengetahuan. Jangan pernah memilih orang yang tidak pernah beramal sekali saja dalam hidupnya, karena ia lebih cocok menjadi pemungut cukai saja.
Dalam rangka proses persiapan pemilihan Calon Bupati dan Calon Wakil Bupati Toraja Utara, saya cukupkan dulu tulisan pengantar kepemimpinan ini. Paparan mengenai dua standar kepemimpinan lainnya yaitu Daya Upaya dan Akuntabilitas akan disajikan pada waktunya. Pilkada Toraja Utara masih beberapa bulan lagi dilangsungkan, akan tetapi sambil menunggu sudah sejak kini baiklah kita sudah mulai meneliti siapa-siapa saja pribadi yang pantas untuk dicalonkan. Kiranya semua ini dapat menjadi permenungan kita bersama. Marilah sama-sama kita mencari dan menemukan sang pemimpin itu di antara kita. Salamma lako kita sola nasang...

setuju dengan pendapat Anto dan Tomakaka Tondon

Sangat setujuh dengan teori-teori dari siunuku Anto dan Tomakaka, tapi perlu dijabarkan sesuai kondisi Toraja.....tidak sekedar mengutip.... buku-buku....

setuju dengan pendapat Anto dan Tomakaka Tondon

Sangat setujuh dengan teori-teori dari siunuku Anto dan Tomakaka, tapi perlu dijabarkan sesuai kondisi Toraja.....tidak sekedar mengutip.... buku-buku....

setuju dengan pendapat Anto dan Tomakaka Tondon

Sangat setuju dengan teori-teori dari siunuku Anto dan Tomakaka, tapi perlu dijabarkan sesuai kondisi Toraja.....tidak sekedar mengutip.... buku-buku....